Pemantik

Praktik Baik Penggunaan Pemantik: Studi di Karawang

Bagikan:

Facebook
WhatsApp
Twitter
Asesmen menjadi suatu proses yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Rhodes dan Shanklin (1993)[1] berpendapat bahwa asesmen dapat menjadi sumber data dan informasi berharga bagi guru dalam menginformasikan kebutuhan pengembangan proses pembelajaran untuk semua siswa. Hasil asesmen juga dapat menjadi sumber data perkembangan siswa dalam proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran diharapkan dapat menjadi lebih efektif dengan adanya data hasil asesmen yang merepresentasikan tingkat kemampuan siswa dalam pembelajaran.


Proses menilai kemampuan dasar literasi dan numerasi siswa kemudian dianggap sangat penting karena pengaruhnya terhadap perkembangan siswa. Beberapa penelitian menyatakan bahwa anak yang kesulitan membaca cenderung merasa kesulitan membaca dan menulis di jenjang yang lebih tinggi, dan juga memiliki intensitas membaca yang lebih sedikit dibandingkan temannya dengan kemampuan yang lebih baik (Lonigan CJ, et al, 2011)[2]. Premis yang sama berlaku dalam proses belajar matematika. Kemampuan matematis/numerasi berkembang secara kumulatif, kemampuan dasar menjadi pondasi untuk menguasai pengetahuan di tingkat yang lebih tinggi. Asesmen kemudian menjadi penting untuk memastikan bahwa siswa telah berkembang di level yang sesuai. Dalam penelitiannya, Purpura DJ, et all (2015)[3] menjelaskan bahwa model asesmen yang efisien dapat digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang membutuhkan pendampingan tambahan, dan juga untuk mengidentifikasi aspek-aspek khusus pada literasi dan numerasi dimana siswa membutuhkan pendampingan tambahan.


Dalam semangat meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi siswa serta mendorong proses pembelajaran berbasis data hasil belajar siswa, PSPK mengembangkan PEMANTIK 2018 sebagai media asesmen berbantu teknologi. PEMANTIK 2018, yang mengadaptasi instrumen ASER namun telah disesuaikan dengan konteks Indonesia, telah digunakan oleh beberapa komunitas di berbagai daerah di Indonesia, diantaranya Kabupaten Langkat; Deli Serdang dan Mentawai (Food for Hungry Indonesia), Lombok (Forum Lingkar Pena), Flores (Taman Bacaan Pelangi), serta Kota Batu dan Probolinggo bersama tim Kolaborasi Literasi Bermakna (KLB) sebagai bagian dari rangkaian Program INOVASI. Pada tahun 2021, PEMANTIK dikembangkan lagi dengan fokus pada pengembangan instrumen kemampuan berbahasa dan matematika dasar untuk anak usia 6 – 12 tahun.


PEMANTIK 2021, yang fungsi utamanya adalah sebagai instrumen asesmen literasi dan numerasi, juga memotret aspek lain seperti Socioeconomic-status (SES), usia, dan lokasi tempat tinggal siswa. Implikasi dari adanya aspek-aspek tersebut adalah PEMANTIK 2021 dapat digunakan untuk menganalisis faktor eksternal yang mempengaruhi kemampuan literasi dan numerasi siswa. Ketersediaan informasi dan data yang komprehensif dapat mengarahkan intervensi dan perubahan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.


Penggunaan PEMANTIK sebagai alat asesmen diagnostik kemampuan siswa sejalan dengan kebutuhan pada kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan pentingnya kemampuan literasi dan numerasi dalam perkembangan akademis siswa. Literasi dan numerasi yang menjadi aspek utama dalam Asesmen Nasional menunjukkan perlunya asesmen berkelanjutan yang dapat dilakukan guru dalam komunitas sekolahnya atau komunitas luar sekolah yang bergerak di bidang pendidikan. Hasil asesmen dengan menggunakan PEMANTIK akan memberikan gambaran awal mengenai kondisi literasi dan numerasi siswa dan secara berkelanjutan dapat digunakan untuk menilai perkembangan kemampuan siswa. Guru pun kemudian dapat memberikan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam pembelajaran, dan komunitas luar sekolah juga dapat mendampingi proses belajar siswa yang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman literasi dan numerasi siswa. PEMANTIK dalam hal ini juga bisa menjadi instrumen pendukung Asesmen Nasional.


Penggunaan PEMANTIK sebagai alat asesmen diagnostik kemampuan siswa sejalan dengan kebutuhan pada kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan pentingnya kemampuan literasi dan numerasi dalam perkembangan akademis siswa. Literasi dan numerasi yang menjadi aspek utama dalam Asesmen Nasional menunjukkan perlunya asesmen berkelanjutan yang dapat dilakukan guru dalam komunitas sekolahnya. Hasil asesmen dengan menggunakan PEMANTIK akan memberikan gambaran awal mengenai kondisi literasi dan numerasi siswa dan secara berkelanjutan dapat digunakan untuk menilai perkembangan kemampuan siswa, sehingga guru pun dapat memberikan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam pembelajaran. PEMANTIK dalam hal ini juga bisa menjadi instrumen pendukung Asesmen Nasional di tingkat sekolah.


Salah satu kekhususan dari PEMANTIK adalah pendekatan asesmen yang dipimpin oleh komunitas (community-led assessment). Kajian Balitbang Kemdikbudristek (2019) menunjukkan layanan perpustakaan umum seperti perpustakaan provinsi maupun perpustakaan kabupaten/kota hanya terkonsentrasi di ibu kota kabupaten, kota, atau provinsi. Di daerah pelosok, praktis masyarakat cukup kesulitan mendapatkan layanan literasi yang memadai. Keterbatasan fasilitas literasi di daerah pelosok selama ini didukung oleh individu dan kelompok masyarakat yang menyediakan akses bacaan di berbagai daerah. Kekuatan komunitas atau organisasi merupakan modal yang penting untuk mengorganisasikan pelaksanaan asesmen secara lebih luas, dan diharapkan dapat menjadi PEMANTIK perubahan praktik pembelajaran literasi dan numerasi.


Inspirasi adalah salah satu organisasi yang telah menggunakan PEMANTIK dalam program peningkatan kualitas komunitas sekolah. Inspirasi menggunakan PEMANTIK karena asesmen PEMANTIK sudah sejalan dengan Kurikulum Merdeka, khususnya kompetensi literasi dan numerasi pada kurikulum. Selain itu, praktikalitas pengambilan data pada PEMANTIK juga menjadi poin menarik bagi Inspirasi. Sistem yang membuat hasil asesmen bisa langsung terinput akan memudahkan proses pengolahan data selanjutnya. Inspirasi juga berpendapat bahwa asesmen PEMANTIK akan sangat bermanfaat untuk mengukur kemampuan dasar siswa yang sangat penting sebagai pondasi untuk perkembangan belajar siswa di tingkat yang lebih tinggi. Apabila kemampuan dasar siswa kurang baik, maka akan sulit bagi mereka untuk menerima dan memahami konsep pembelajaran yang lebih tinggi, dan hal ini akan menjadi tantangan juga untuk guru dalam proses pembelajaran.


Inspirasi yang telah banyak terlibat dalam projek peningkatan kapasitas kepala sekolah juga merasa bahwa dengan menggunakan PEMANTIK, mereka bisa terlebih dahulu mendapatkan gambaran kebutuhan peningkatan kualitas pembelajaran yang kemudian dapat dipetakan sesuai kondisi dan kapasitas sekolah maupun daerah yang menjadi mitra Inspirasi. Hasil asesmen secara khusus dapat menunjukkan pada topik mana saja siswa tertinggal. Misalnya, hasil asesmen menunjukkan masih cukup banyak siswa yang berada di level 0 dalam memahami kata. Pemetaan yang spesifik ini dapat langsung mengarahkan sekolah dan khususnya guru pada masalah dan meningkatkan urgensi akan intervensi.


Ketika hendak bekerja sama dengan mitra, baik sekolah maupun daerah, adanya hasil asesmen awal PEMANTIK dapat menjembatani proses komunikasi, dimana pihak mitra kemudian melihat hasil asesmen sebagai indikator bahwa intervensi dibutuhkan untuk mengatasi masalah literasi dan numerasi yang ada di sekolahnya atau daerah.


Dalam pengalaman menggunakan PEMANTIK, Inspirasi juga melihat perubahan paradigma pada kepala sekolah dan guru, dimana mereka menjadi lebih peka pada data hasil belajar, kondisi dan kebutuhan belajar siswa, dan kemudian merasa terpacu untuk melakukan praktik baik yang dapat mengatasi masalah terkait.


Hasil asesmen PEMANTIK kemudian digunakan untuk merancang intervensi. Khusus untuk pembelajaran dalam kelas, hasil asesmen mempengaruhi bagaimana modul pembelajaran dibuat; perencanaan konten modul akan disesuaikan dengan kompetensi yang belum dikuasai siswa dan bagaimana guru akan mengajarkannya dalam pembelajaran. Intervensi kemudian dapat berbentuk kelas tambahan di pagi atau siang hari sebelum pembelajaran kelas dimulai dengan fokus pada siswa yang terdampak menurut hasil asesmen. Proses ini difasilitasi oleh Inspirasi dan dengan dukungan kepala sekolah, dan terlaksana dalam workshop bersama guru mata pelajaran terkait dan pada guru akan menekankan pentingnya Teaching at the Right Level. Dari praktik yang selama ini sudah dilakukan Inspirasi di beberapa satuan pendidikan, terdapat peningkatan level kemampuan literasi dan numerasi siswa dibandingkan ketika pertama kali kemampuan siswa dinilai dengan PEMANTIK.


Terkait teknis pengambilan data, Inspirasi bekerja sama dengan enumerator yang sebelumnya diberikan pelatihan dan arahan tentang prosesnya di lapangan. Enumerator juga sudah memahami penggunaan PEMANTIK di tingkat sekolah atau daerah. Sebelumnya, enumerator yang terlibat adalah guru yang ditempatkan di sekolah berbeda, namun kemudian Inspirasi memilih enumerator dengan latar belakang yang lebih beragam, seperti mahasiswa, dosen, atau peneliti, yang sebelumnya memiliki pengalaman berinteraksi di lingkungan pendidikan. Enumerator sangat efektif dalam proses pengumpulan data asesmen real time, sehingga PEMANTIK juga memiliki database terupdate tentang hasil literasi dan numerasi siswa. Penggunaan PEMANTIK di lapangan bukan tanpa tantangan. PEMANTIK yang adalah instrumen penilaian berbasis teknologi akan sangat bergantung pada ketersediaan jaringan dan koneksi internet. Sehingga, kebutuhan pada akses internet menjadi penting untuk proses pengembangan dan pendekatan ke daerah atau sekolah kedepannya. PEMANTIK yang saat ini sudah memiliki platform digital sendiri juga mempermudah proses pengisian dan akses data, baik untuk sekolah, daerah, atau komunitas yang ingin terlihat dalam peningkatan literasi dan numerasi siswa.


PEMANTIK diharapkan dapat menjadi instrumen asesmen yang dapat turut memperkuat pondasi literasi dan numerasi siswa sebelum mereka siap menerima konsep pembelajaran yang lebih kompleks. PEMANTIK juga diharapkan dapat menjangkau lebih banyak komunitas pendidikan, sekolah, daerah, dan stakeholders pendidikan lainnya sehingga kemampuan dasar literasi dan numerasi siswa dapat dinilai secara berkelanjutan dan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan siswa pun dapat diterapkan. Guru, kepala sekolah, dan stakeholders pendidikan terkait pun diharapkan dapat menjadi lebih sensitif dan aware dengan data terkait siswa dan perencanaan pendidikan pun dapat berjalan lebih efektif dengan menggunakan data yang sesuai.

Referensi:

  • Rhodes, L. K., & Shanklin, N. L. (1993). Windows into Literacy: Assessing Learners, K-8. Heinemann, 361 Hanover St., Portsmouth, NH 03801-3912.

  • Lonigan CJ, Allan NP, Lerner MD. (2011). Assessment of Preschool Early Literacy Skills: Linking Children’s Educational Needs with Empirically Supported Instructional Activities. Psychol Sch, 48(5):488-501. doi: 10.1002/pits.20569. PMID: 22180666; PMCID: PMC3237681.

  • Purpura DJ, Lonigan CJ. (2015). Early Numeracy Assessment: The Development of the Preschool Numeracy Scales. Early Educ Dev, ;26(2):286-313. doi: 10.1080/10409289.2015.991084. PMID: 25709375; PMCID: PMC4335720.

Postingan Terbaru

Praktik Baik Penggunaan Pemantik: Studi di Karawang

Desember, 2022

Dalam pengalaman menggunakan PEMANTIK, Inspirasi juga melihat perubahan paradigma pada kepala sekolah dan guru, dimana mereka menjadi lebih peka pada data hasil belajar, kondisi dan kebutuhan belajar siswa, dan kemudian merasa terpacu untuk melakukan praktik baik yang dapat mengatasi masalah terkait.

Deteksi Bias Gender pada Soal Literasi dan Numerasi: Konteks Soal Seperti Apa untuk Level Awal?

Desember, 2022

Pengembangan instrumen literasi dan numerasi perlu memastikan bahwa instrumen tidak menguntungkan atau merugikan kelompok peserta tes tertentu atau bebas bias. Hal ini kemudian menekankan pada pentingnya proses identifikasi potensi bias.